SUARA
HATI MASYARAKAT KECIL DILABANGKA
Ditengah hiruk pikuk
kota mataram, diiringi suara sepeda motor dan juga suara orang sudah mulai
beraktivitas menandakan pagi sudah datang. saya duduk termenung sendiri didepan
kos ditemani segelas teh manis dan satu bungkus kerupuk hal yang biasa saya
lakukan setiap paginya akan tetapi pagi ini ada yang berbeda dari biasanya
yaitu langit terlihat masih gelap matahari belum juga menampakkan senyumnya
yang gagah yang biasanya di tampakkan dari pagi hingga sore hari terdengar juga
suara gerimis yang turun seakan semuanya mengerti akan pikiran aku saat ini.
Pikiran kritisku
tertuju untuk daerah dimana aku dilahirkan dan dibesarkan, jauh didasar hatiku
yang paling dalam ada perasaan yang menjanggal yang menghantuiku setiap saat
apabila mengingat daerah tercinta ini. Pikiran kritis itu tidak lain tidak
bukan tentang bagaimana nasib masyarakat disana kelak jika bangunan kota nan
megah telah dibangun disana, didalam pikiranku apa tidak akan semakin terjadi
kesenjangan sosial, apa masyarakat miskin tidak akan semakin melarat, apa mata
pencaharian yang akan mereka andalkan, dari mana mereka mendapatkan uang untuk
istri dan anak-anaknya, dari mana mereka mendapatkan biaya untuk sekolah anak-anaknya.
Apa hal-hal seperti itu sudah dipikirkan oleh pemerintah dari sekarang. Rasanya
kalau masyarakat tidak akan mungkin bisa berpikir sampe sejauh itu karena
memang pengetahuannya tidak sampe kesana dipikiran mereka yang ada hanya perasaan bangga karena mereka
akan menjadi orang kota. Mereka tidak berpikir kalau labangka sudah menjadi
kota akan dikuasai oleh orang luar dan masyarakat itu sendiri yang notabene
berpendidikan rendah hanya akan menjadi penonton keberhasilan labangka nantinya.
Katanya
labangka daerah yang mandiri karena didaerah ini merupakan daerah pengahsil
jagung dikabupaten Sumbawa untuk itu dibangun lah kota terpadu mandiri akan
tetapi yang aku pikirkan labangka jadi
daerah mandiri karena hasil jagungnya yang tinggi tetapi dengan dibangunnya
kota didaerah ini tentunya akan menyebabkan pengurangan lahan dalam kegiatan
budidaya jagung terutama dilabangka satu sebagai pusat kota terpadu mandiri labangka
yang notabene memiliki lahan yang lebih bagus dan lebih produktif dari pada
lahan-lahan dilabangka lainnya dan tentunya
produksi jagung didaerah ini juga akan menurun akibatnya labangka bukan lagi
daerah penghasil jagung yang tinggi. Apa pernah pemerintah berpikir kesana, apa
pernah pemerintah berpikir bagaimana nasib masyarakat didaerah ini yang hanya
mengandalkan pertanian sebaga lahan pencaharian, apa pernah pemerintah berpikir
apa alternatif lain sebagai mata pencaharian masyarakat didaerah ini. Mungkin
bagi mereka yang berpendidikan ini bukan masalah bahkan dengan dibangunnya kota
terpadu mandiri dilabangka bisa dijadikan sebagai peluang mereka untuk
mendapatkan pekerjaan tapi bagaimana dengan mereka yang berpendidikan rendah bahkan tak berpendidikan
sama sekali.
Pikiran kritisku yang
dituangkan melalui tulisan ini tertuju untuk orang-orang yang memiliki
kemampuan untuk memikirkan bagaiamana nasib labangka dan masyarakatnya kedepan
dalam hal ini teman-teman yang berpendidikan. Dan juga bagi mereka yang
sekarang menjalankan amanat masyarakat, mereka yang duduk di pemerintahan.
Dengar lah suara hati masyarakat kecil jangan hanya mementingkan diri sendiri.
Heri labangka
bagus
BalasHapus