Rabu, 04 Desember 2013

SUARA HATI MASYARAKAT KECIL DI LABANGKA



SUARA HATI MASYARAKAT KECIL DILABANGKA
Ditengah hiruk pikuk kota mataram, diiringi suara sepeda motor dan juga suara orang sudah mulai beraktivitas menandakan pagi sudah datang. saya duduk termenung sendiri didepan kos ditemani segelas teh manis dan satu bungkus kerupuk hal yang biasa saya lakukan setiap paginya akan tetapi pagi ini ada yang berbeda dari biasanya yaitu langit terlihat masih gelap matahari belum juga menampakkan senyumnya yang gagah yang biasanya di tampakkan dari pagi hingga sore hari terdengar juga suara gerimis yang turun seakan semuanya mengerti akan pikiran aku saat ini.
Pikiran kritisku tertuju untuk daerah dimana aku dilahirkan dan dibesarkan, jauh didasar hatiku yang paling dalam ada perasaan yang menjanggal yang menghantuiku setiap saat apabila mengingat daerah tercinta ini. Pikiran kritis itu tidak lain tidak bukan tentang bagaimana nasib masyarakat disana kelak jika bangunan kota nan megah telah dibangun disana, didalam pikiranku apa tidak akan semakin terjadi kesenjangan sosial, apa masyarakat miskin tidak akan semakin melarat, apa mata pencaharian yang akan mereka andalkan, dari mana mereka mendapatkan uang untuk istri dan anak-anaknya, dari mana mereka mendapatkan biaya untuk sekolah anak-anaknya. Apa hal-hal seperti itu sudah dipikirkan oleh pemerintah dari sekarang. Rasanya kalau masyarakat tidak akan mungkin bisa berpikir sampe sejauh itu karena memang pengetahuannya tidak sampe kesana dipikiran mereka  yang ada hanya perasaan bangga karena mereka akan menjadi orang kota. Mereka tidak berpikir kalau labangka sudah menjadi kota akan dikuasai oleh orang luar dan masyarakat itu sendiri yang notabene berpendidikan rendah hanya akan menjadi penonton keberhasilan labangka nantinya.
          Katanya labangka daerah yang mandiri karena didaerah ini merupakan daerah pengahsil jagung dikabupaten Sumbawa untuk itu dibangun lah kota terpadu mandiri akan tetapi yang aku pikirkan labangka  jadi daerah mandiri karena hasil jagungnya yang tinggi tetapi dengan dibangunnya kota didaerah ini tentunya akan menyebabkan pengurangan lahan dalam kegiatan budidaya jagung terutama dilabangka satu sebagai pusat kota terpadu mandiri labangka yang notabene memiliki lahan yang lebih bagus dan lebih produktif dari pada lahan-lahan dilabangka lainnya dan  tentunya produksi jagung didaerah ini juga akan menurun akibatnya labangka bukan lagi daerah penghasil jagung yang tinggi. Apa pernah pemerintah berpikir kesana, apa pernah pemerintah berpikir bagaimana nasib masyarakat didaerah ini yang hanya mengandalkan pertanian sebaga lahan pencaharian, apa pernah pemerintah berpikir apa alternatif lain sebagai mata pencaharian masyarakat didaerah ini. Mungkin bagi mereka yang berpendidikan ini bukan masalah bahkan dengan dibangunnya kota terpadu mandiri dilabangka bisa dijadikan sebagai peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan tapi bagaimana dengan mereka yang  berpendidikan rendah bahkan tak berpendidikan sama sekali.
Pikiran kritisku yang dituangkan melalui tulisan ini tertuju untuk orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memikirkan bagaiamana nasib labangka dan masyarakatnya kedepan dalam hal ini teman-teman yang berpendidikan. Dan juga bagi mereka yang sekarang menjalankan amanat masyarakat, mereka yang duduk di pemerintahan. Dengar lah suara hati masyarakat kecil jangan hanya mementingkan diri sendiri.
Heri labangka

1 komentar: